KUCING
Ngueng…. Jen memacu motornya kencang. Enam belas menit telah berlalu dari rumah Don. Jen merasa muak, males dan juga eneg atas perilaku angot-amgotan Don yang buat Jen sama kolokannya dengan tingkah laku Hendra, adik bungsunya yang baru berumur sepuluh tahun.
Hanya karena melihat Jen membonceng Pyu, Don jadi bersikap sinis kayak tadi padanya. Memang sih salah Jen juga pakek dada dan kisbee segala, waktu melintas dimuka rumah Don, tapi itu dilakukannya karena iseng aja. Nggak lebih. Padahal kalo dipikir antara Jen dan Don kan udah nggak ada hubungan apa-apa. Just friend not more. Kalopun mereka pacaran itu dulu, setahun yang lalu. Tapi , ngapain juga Don berlaku kaya gitu.
“Don” panggil Jen sambil turun dari sepeda motornya, saat sampai didepan rumah Don.
Don diam, tak berekspresi. Masih sibuk dengan aktifitasnya bongkar pasang motor trailnya.
”Lagi ngapain?” Tanya Jen. Kali ini tepat didepan muka Don. Tumben. Batin Jen. Biasanya juga Don duluan yang ber say Hello, coba berakrab-akrab. Kok sekarang berlagak jual mahal. Laku berapa sich. Gerutu Jen sendirian.
”Don” Panggil Jen. Kali ini dengan suara yang lebih keras. Tetap aja Don tak berubah. Ih, ini anak telinganya rada budeg kali ya, dipanggil kok diem aja.
”Don sadis.” Teriak Jen sambil berlalu menuju motornya. Berniat untuk segera pergi. Don mendongak samil melongo, persis kaya oreng bloong yang ada dirumeh sakit jiwa. Perlahan dia bangkit sambil melebarkan senyumnya belagak sok manis.
”Nggak lucu.” Teriak Jen keras. Distaternya motor dan ups. Dia lupa gigi masuk transmisi. Jen tergagap mencoba menahan untuk tak terbantingjatuh dari motornya. Senyum geli dihati Don. Motorpun melaju membawa Jen berlalu.
Pikiran Jen terpecah, antara tingkah Don yang barusan ditemuinya dan jalan yang ada didepannya. Sebenarnya tak menjadi masalah berat buatnya karena Jen merasa sudah mengenal jalan itu dengan benar, pelan-pelan kontrol gas ditanganya bertambah tanpa disadari. Kecepatan enam puluh, tujuh puluh, delapan puluh, sembilan puluh hinggga.....
Meoong.... pekik seekor makhluk kecil mungil untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya terkapar, mengejang dan lemas tak bernyawa lagi.
Spontan konsentrasi Jen kembali. Tuhan... kenapa aku begitu ceroboh. Pekik Jen dalam hati. Cittt... ditariknya handle rem tangan dalam. Kaki kananya menginjak rem kuat-kuat. Tromol cakram itupun tergigit dan roda motorpun berhenti serentak setelah hampir melemparlan Jen dari sedelnya.
Jen tersentak dan segera memutar haluan. Dihampirinya kucing itu perlahan. Tubuh belangnya tak lagi berwarna jelas tertutup oleh genangan merahnya darah. Jen merasa pipinya hangat oleh air mata. Don, ini gara-gara kamu. Kamu jahat, kenapa aku harus mikirin kamu. Pekik hati Jen.
Segera dicarinya kantong atau apapun itu diantara semak untuk segera membawa makhul malang itu. Tapi tak didapatinya satupun. Jen histeris, sunset mulai tenggelam, tak satupun rumah berdiri disekitar tempat itu, juga tak ada seorangpun manisia melewati jalan itu.
”Mbak, kenapa?” tanya salah satu dari laki-laki itu. Mendadak rasa geli menyeruak dihati gadis itu. Tubuh laki-laki yang pertama mengengatkannya pada tokoh komik pak janggut dan kawannya di majalah anak-anak kesayangannya dulu. Cebol, berkumis tebal dan bermata lebar sedangkan laki-laki yang disebelahnya bertubuh tinggi, kurus kering dan bermulut lebar. Jen tersenyum geli. Lucu.
”Em” Jen ragu-ragu. Tangannya menunjuk pada kucing yang masih tergeletak dengan kondisi yang mengenaskan.
”Wah, Mbak baru saja menabrak kucing ini? Kalo gitu diruat mbak. Nanti kualat tujuh turunan. Motor mbak bisa sial.” kata laki-laki yang bertubuh kurus. Sesekali matanya metap kearah Jen dan kucing itu berganti.
Laki-laki yang gendut tampak mengidikkan bahunya.
”Kualat? Apa Pak?” tanya Jen. Bullsiht. Aku kan ngaak sengaja lagi pula nih kucing nyebrang nggak pakek nengok kiri kanan, kok aku yang disalahin.
”Iya, Mbak, buruan motornya dijual aja, biar sialnya hilang. Biasanya minta ganti nyawa orang lho.”
”Ikhtiar aja Mbak. Moga-moga sengkalanya bisa hilang.”
”Sengkala? Apa sih itu Pak?”
”Akibat buruk dari kejadian tadi.”
”CaranyaPak?”
”Ya, kucing ini nanti dibawa pulang, dimandikan, di kafani dan dikubur seperti layaknya perlakuan kita pada mayat manusia.” Tutur laki-laki itu panjang lebar.
Jen merasa bului kuduknya merinding. Segitu amat sih seremnya. Batinnya dalam hati.
”Bapak punya kantong plastik?” tanya Jen tanpa bermaksud berlama-lama. Penjelasan dua orang laki-laki itu membingungkan dirinya. Kualat? Ruwatan? Ikhtiar? Apa sih.
Serentak laki-laki itu menggelang. Seakan membaca kebingunganya laki-laki pertama menyarankan untuk membawa bangkai kucing itu membungkusnya denagn jaket yang dipakainya.
Ragu Jen mengiyakannya, tapi demi kata-kata yang terus terucap dari bibir dua laki-laki itu Jen akhirnya merelakan jaket yang baru berumur sebulan itu ditangannya. Bagaimanapun dia nggak mau kualat.
Pulang ke rumah, seisi rumakpun gempar mendapai Jen pulang tak bertangan kosong. Wajahnya yang pucat pasi dengan seonggok jaket berlumuran darah yang dijinjingnya hati-hati, Jen menerobos masuk dengan diikuti pandangan heran dan tanda tanya besar atas kemisteriusannya.
Tiba didepan Mama, Jen meletakkan bungkusan itu dan segera memeluk tubuh mama erat. Mama kebingungan, tak biasanya Jen, anak gadis semata wayangnya berlaku seperti itu, kecuali jika memang ada ke mauannya yang minta dituruti.
Jen seorang gadis yang teramat anti pati bila disebut anank Mama.
”Jen, kenapa?” tanya mama kebingungan
”Ma, Jen kualat.” kata Jen terbata diantara isak tangisnya.
”Stt, jangan ngomong gitu ah, kenapa?” sejuta tanda tanya besar berputar dibenak Mama, Papa dan juga manusia lain yang ada diruanggan itu.
Jen menoleh pada bungkusan yang tergeletak dilantai itu. Mama mendekat tapi berhenti ketika dilihatnya darah mengucur deras dari sana. Akhirnya Papa mencoba mendekat, sedangkat Jen terduduk lemas disudut ruang. Bi Inem, Mas Novi dan Mama hanya melongokkan kepala tanpa berani mengambil resiko mendekat.
Ha. Semua mata membelabak lebar. Mirip ikan Mas koki di aquarium yang kaget melihat rembulan. Apa hubungannya. Papa terkejut. Tangannya spontan tertarik kebelakang menjauhi bungkusan yang telah terbuka itu, dengan mulut berhuruf o Mas Novi melotot lebar ke arahnya. Mama memekik histeris diikuti pekikan Bi Inem yang nggak kalah histeris. Sedangkan Hendra. Siapa peduli, hanya dia yang luput dari kamera penglihatan Jen, tapi ternyata Hendra ada dibawah kolong meja dengan jari tangan menutup lubang telinga. Dasar kolokan. Desis Jen. Ingatan Jen kembali melayang pada Don. Jahat. Pekik Jen.
”Papa sudah bilang, kamu nggak perlu motor. Ini hasilnya.” Lagi-lagi Papa mengungkit soal itu lagi. Jen hanya diam. Kali ini dia tak punya tekhnik membela diri. Barang bukti berupa bangkai kucing belang itu sudah membuktikan semua kalau memang dia tak pernah bisa berhati-hati.
Amrah Papa, naik sedemikian cepatnya. Sampai akhirnya kata-kata yang sama persis yang diucapkan kedua laki-laki tadi meluncur deras dari mulutnya. Jen menggigi. Bukan karena kedinginan melainkan karena ketakutan yang teramat sangat. Mama segera mendekat. Mama memang selalu tahu kapan saat paling dibutuhkan. Dibimbingnya Jen kekamar mandi setelah terlebih dahulu menyuruh Bi Inem mengambilkan air hangat untuk Jen.
Setelah ketegangan itu usai, Papa, Mama, Mas novi dan juga si kolokan Hendra menemaninya untuk memandikan kucing itu dan merawatnya seperti layaknya mereka merawat manusia. Benar-benar diperlakukan hati-hati dan layak. Untuk sementara Papa mengatakan motor itu haurs segera dijual.
Semula Jen merasa keadaan itu sangatlah terlalu dilebih-lebikan apalagi kini, mereka selalu menjaganya dengan hati-hati. Seakan Jen adalah sebuah boneka kaca yang kalau terkena kerikil kecilpun bisa pecah dan hancur. Satu dua hari Jen merasa enak dadn dimanjakan, mau ambil minum, Bi Inem mau meladeninya, mengambil ganti baju, si tukang onar Hendra mau membantunya, beli kertas surat plus mengantarkannya ke kantor pos, Mas Novi melakukannya degan senang hati. Tapi kali ini setelah seminggu berlalu, Jen mulai bosan. Apalagi ketika diingatnya bentar lagi ulang tahun Vian tiba. Dan terlebih ketika sepeda motornya tampak semakin manis teronggok berdiam diri di sudut ruang. Rasanya Jen tak akan rela jika sepeda itu sampai berpindah tangan.
”Jen. Ada tamu tuh.” Mas Novi memanggilnya dari seberang jendela.
”Siapa?”
”Tau.”
Jen bergegas keluar. Dilihatnya Don tengah memandangi sekumpulan ikan yanaga teangah berenang dikolam depn rumah. Jen manyun. Huh, ni dai biang keroknya. Gara-gara Don, Jen nggak punya waktu lagi buat main ke tempat wieb, nongkrong di cafe kampus, daki gunung, ngelaba di mal, atau main kebut-kebutan lagi. Semuanya nggak lagi dilakuinnya. Hanya gara-gara mikirin Don jelek, ngelamun, nebrak kucing dan it’s over. Nggak ada waktu yang tersisa buat itu semua, Jen harus selalu dirumah. Nonton TV, makan tidur bener-bener bikin Jen males dan makin mules. Papa selalu saja punya alasan yang ngggak masuk akal. Almarhum Kucing itu bisa bikin kualat! Kamu bisa aja tertimpa musibah apalagi kalau kamu menyongsongnya dengan kegiatanmu yang bener-bener bikin Papa pusing. Satu-satunya yang masih bisa dilakukannya dengan suka cita adalah main gitar sepuasnay. Itupun sampai Jen merasa negg dan bosen. Ehhh... sekarang si monyet jelek bernama Don muncul nggak lup bawa cengirannya yang sok suci. Fuh.
”Hallo Jen, kenapa nggak pernah keliatan?” tanya Don sekenanya setelah tahu Jen muncul tanpa senyum.
”Hei, suruh sapa dateng.” Ujar Jen ketus.
”Loh......” Don nyengir. Tangannya menggaruk kepala ang tak terasa gatal. Nggak biasnya Jen seperti ini. Ketus dan keras kepala.
”Don kamu jahat.” Deisi Jen pelan.
”Jahat? Kenapa?”
”Kenapa lagi. Gara-gara kamu tuch, aku pulang nabrak kucing sekarang kebebasanku terenggut begitu saja. Ini semua gara-gara kamu......” teriak Jen histeris. Di hampirinya Don yang masih tegak berdiri tak mengerti. Jen memuluk perut, badan dan kepala Don sekenanya. Tangan, kaki semuanya bergerak menyerang Don. Tak ada ampun lagi buat Don.
”Ampun Jen..” ditengah usahanya untuk melepaskan diri dari serangan Jen.
”Nggak ada ampun buat kamu...” Teriak Jen. Kembali tangan dan kakinya melayang bersarang di seluruh bagian tubuh Don. Don tak membalasnya hanya berusaha menangkis dan menghindar.
”Jen, apa-apaan sih.” Teriak Mama dari seberang jendela. Serentak Jen dan Don berhenti bergerak. Mama memperhatikan mereka dengan tatapan tajam hingga keduanya harus menghindarinya.
Jen melirik ke arah Don disaat yang sama Don tengah memandanngnya. Sekilas Don tahu harus berbuat apa. Ditarik nya tangan Jen menuju teras. Jen menurut, tak mau membuat masalah dengan Mama, masalah yang dibut Don dan kucing itu saja masih menyiksanya apalagi jika ditambah dengan kelakuannya kali ini. Uh, Jen tak bisa membayangkan jika dalam benak Mama tertanam Jen menukuli Don dengan tendangan kungfunya. Fiu.
”Jen, kenapa sih kamu marah seperti itu?” tanya Don sekali lagi setelah segalanya usai dan berubah tenang.
”Kucing itu mati.” Kata Jen pelan. Pandangan matanya tak berfokus namun menatap lurus kedepan. Melamun. Don bingung. Selalu saja tingkah Jen membuatnya bingung. Sebelum mereka pacaran, setelah mereka pacara bahkan sekarang setalah mereka bubaran tetap saja Jenmembingungkan. Sikapnya, tingkahnya dan semua rasanya Don tak pernah bisa mengerti. Bagaimana tidak, terkadang saat mereka masih pacaran Don merasa tak yakin apakah benar Jen itu perempuan atau tidak. Uhhhh... sekarang, kembali Don merasa kebingungan.
”Kucing??? Oh, setelah kucing itu mati karena kau tabrak. Om Satyo tak memberimu ijin melakukan kegiatanmu. Karena mereka mencemaskanmu. Lalu kenapa kamu harus bingung, itu tandanya Om Satyo masih menyayangimu.” Kata-kata Don keluar begitu saja seperti tak pernah dipikirkannya terlebih dahulu. Sayang? Apa bukan sebaliknya? Tanya Jen dalam hati.
”Sepeda itu mau dijual.” Bentak Jen kesal. Masa Don nggak ngerti juga.
”Ya bener, lagian sepeda itu kan pembawa musibah. Om Satyo lebih sayang kamu ketimbang sepedaitu.” Balas sengit Don. Ditatapnya wajah Jen yang manyun seperti ingin ditelannya bulat-bulat. Bego. Batin Don.
”Aku tahu, tapi sepeda itu segalanya buat aku.” kali ini bukan bentakan yang keluar dari mulut mengil Jen melainkan kata-kata yang terbata-bata keluar berlahan.
”Gini aja deh, karena secara tak langsung akulah penyebabnya, aku mau beli motor itu berapapun harganya. Dan kamu boleh memakainya kapanpun kamu suka dan selama kamu mau.” Kata Don serius. Terkadang melihat Jen yang keras kepala amat dibencinya tapi jika Jen sudah mengeluarkan air matanya Don tak lagi bisa berdaya. Bagaimanapun Don masih mencintai dan menyayangi Jen lepas dari kebingungannya akan sikap Jen.
”Bener Don.” Tanya Jen dengan mata berbinar. Don menjawab dengan anggukan. Melihat keriangan Jen kembali bagaikan menemukan surganya yang hilang.
”Kamu baik banget Don, kalo kamu baik gini, aku mau baikan lagi dan jadi pacar kamu.” Kata Jen lugas sambil merangkul Don Erat. Don tertawa, bukankah selama ini aku selalu baik ma kamu. Kata hatinya.
”Ehem” suara mendehem Mama kembali mengagetkan meraka. Buru-buru mereka melepaskan pelukan itu dan berpura-pura tak terjadi apa-apa.
”Sekarang mana kunci kontaknya, kita coba sama-sama.” Tanya Don sambil mengulurkan tangannya.
”Tapi...” ragu Jen menjawab. Entah mengapa hatinya menjadi berdebar tak tentu.
Don segera mendorong sepeda motor itu ke halaman. Memeriksa bodinya yang memang masih seperti semula. Mencoba memanaskan mesinnya dan siap mengendarainya.
”Ayo.”Kata Don menyadarkan jen dari lamunan.
”Sebentar aku ambil helm dulu.” Kata Jen hendak berlalu.
”Nggak usah.”Kata Don keras ditingkahi derum mesin yang menderu. Ditariknya tangan Jen dan memaksanya untuk segera memboncengnya.
Sepanjang perjalanan banyak hal yang Don bicarakan, Jen mendengarkannya hanya aneh sepertinya karena Jen tak tahu apa yang mereka bicarakan. Dalam benaknya ada sesuatu yang memaksanya untuk tak bisa berfikir. Jen tergeragap ketika don melintasi sebuah lubang kecil yang tak terlalu dalam. Motor itu melonjak tak terlalu tinggi tapi cukup membuatnya berdesir. Jen heran. Dimana keberaniannya mengendarai motor itu.
Sesaat Jen bimbang, ingin pulang atau tetap berada dibelakang badan Don.
”Don...”panggil Jen lebih keras.
”Apa?” teriak Don. Dengan kecepatan itu tak mudah untuk mendengar apa kata Jen. Dimiringkannya telinganya tapi tetap saja Don tak mendengar Jen. Jarak sedekat itu seperti beratus-ratus meter saat itu. Don menoleh, sekedar untuk menegaskan Jen tak apa-papa. Tapi.
Kucing itu melintas begitu saja. Begitu dekat hingga untuk menginjak rem itu saja Don bahkan tak sempat. Motor itu terguling, meluncur rebah dan baru berhenti setelah menabrak pohon asam jawa di pinggir jalan. Tubuh Jen tersentak kebelakang. Dan jatuh dengan kepala terlebih dahulu. Tangannya masih mengejang menggenggam ujung kaos Don. Tak lagi ada desir di dadanya. Don berusaha bangkit, remuk sekujur tubuhnya tak dihiraukannya lagi. Don roboh setelah jantungnya yang pecah tak lagi bisa menahan detaknya untuk tetap tinggal.
Kucing itu terlempar, dengan tubuh berlumur darah dan menghilang.
Rabu, 21 Mei 2008
Langganan:
Postingan (Atom)